MEDAN II
Anggota DPRD Kota Medan dari Fraksi PDI Perjuangan, Agus Setiawan mengatakan bahwa Pancasila tidak boleh berhenti sebagai materi pelajaran yang sekadar dihafal di ruang kelas.
Menurutnya, nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, baik oleh masyarakat maupun para pemimpin bangsa.
Hal tersebut disampaikan Agus saat menggelar Sosialisasi Penyebarluasan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan (Wasbang) di Kampus STBA-PIA ( Sekolah Tinggi Bahasa Asing Persahabatan Internasional Asia), Jalan K.L.Yos Sudarso, Lingkungan XI, Lorong XII, Glugur Kota, Medan Barat.
Dihadapan mahasiswa, akademisi, serta sejumlah civitas akademika, Agus membawa thema ” Dari Ruang Kelas ke Realitas Lapangan”.
Para peserta sangat antusias mengikuti diskusi mengenai tantangan implementasi nilai-nilai kebangsaan di era modern.
Dalam paparannya, Agus mengungkapkan bahwa selama ini dirinya secara konsisten memilih menyasar kalangan pelajar dan mahasiswa dalam berbagai kegiatan sosialisasi kebangsaan.
Anggota Komisi 3 DPRD Medan menjelaskan bahwa tema yang dibawa “Dari Ruang Kelas ke Realitas Lapangan” dipilih karena melihat adanya kesenjangan yang cukup besar antara teori yang diajarkan di lembaga pendidikan dengan praktik yang terjadi di tengah masyarakat.
“Saya mengangkat tema ini berdasarkan modul Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Antara teori dengan kenyataan di lapangan masih sangat jauh. Jangan sampai Pancasila hanya menjadi slogan atau omon-omon. Yang kita butuhkan adalah implementasi nyata,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Agus mengajak mahasiswa untuk melihat politik secara lebih objektif.
Ia menilai banyak anak muda memiliki persepsi negatif terhadap politik karena lebih sering melihat praktik-praktik yang menyimpang dibandingkan tujuan mulia dari politik itu sendiri.
“Politik tidak selalu seperti yang kalian lihat dan bayangkan. Politik seharusnya menjadi instrumen untuk menghadirkan kesejahteraan masyarakat. Karena itu, kita membutuhkan generasi muda yang mau terlibat membawa perubahan,” ucapnya.
Agus menilai tantangan terbesar bangsa Indonesia saat ini bukanlah kurangnya teori mengenai Pancasila maupun wawasan kebangsaan. Persoalan yang lebih serius justru terletak pada hilangnya kompas moral dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Kata, Agus bahwa saat ini kepercayaan publik terhadap dunia politik mengalami penurunan. Kondisi tersebut, menurutnya, dipengaruhi oleh berbagai persoalan yang masih terjadi dan bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila.
“Di sekolah dan kampus kita diajarkan kejujuran, tetapi di lapangan masih terjadi korupsi. Kita diajarkan persatuan, tetapi masih muncul politik identitas. Kita belajar tentang keadilan sosial, tetapi ketimpangan ekonomi masih terjadi. Inilah tantangan terbesar dalam mengimplementasikan Pancasila,” ujarnya.
Agus mengatakan kritik terhadap kondisi tersebut harus dijadikan bahan introspeksi bersama.
Ia menilai selama ini Pancasila sering kali hanya menjadi simbol yang dipasang dalam bentuk spanduk, baliho, atau slogan, namun belum sepenuhnya diwujudkan dalam tindakan nyata.
“Sering kali Pancasila hanya dihafalkan, bukan dijalankan. Nilai gotong royong kalah oleh kepentingan pribadi. Wawasan kebangsaan hanya menjadi kegiatan seremonial. Bahkan elite politik terkadang melupakan nilai-nilai kebangsaan ketika berebut kekuasaan,” pungkasnya.
Kegiatan ini sendiri turut dihadiri Ketua Sekolah Tinggi Bahasa Asing Persahabatan Internasional Asia (STBA-PIA) Prof Dr Berlin Sibarani MPd yang juga turut memberikan pemamparan. (ROM)






