MEDAN II
Keluarga besar almarhumah Winda Lorenza Gowasa (30) menggelar aksi penyalaan 1.000 lilin di depan Pos Bloc/Kantor Pos Besar Medan, Jumat (28/8) malam.
Aksi tersebut digelar sebagai bentuk perjuangan keluarga untuk mencari keadilan atas kematian Winda yang ditemukan meninggal dunia pada 2 Agustus 2026.
Pantauan di lokasi, massa aksi mulai berkumpul sejak pukul 18.00 WIB. Selepas magrib, keluarga dan peserta aksi mulai membentangkan spanduk serta memasang lilin di sekitar lokasi.
Ibunda Winda, Yestin Laia, turut hadir dalam aksi tersebut. Yestin yang duduk di kursi roda akibat sakit tampak didampingi suaminya, Sanalui Gowasa (55).
Dengan linangan air mata, Yestin terus melantunkan kidung rohani di belakang foto putrinya yang dipajang di kawasan Lapangan Merdeka Medan.
Foto Winda tampak dikelilingi karangan bunga mawar putih, deretan lilin, serta sejumlah foto almarhumah.
Meski terlihat lelah, semangat Yestin untuk mencari keadilan atas kematian putrinya tidak pernah padam.
Sambil melantunkan doa, Yestin beberapa kali menangis dan melambaikan tangan. Saat memegang pengeras suara, Yestin kemudian berorasi di hadapan puluhan peserta aksi.
Di tengah lalu lalang warga, air mata Yestin terus mengalir ketika menyampaikan keyakinannya mengenai kematian putrinya.
“Aku ini seorang ibu, naluriku tidak menerima anakku bunuh diri. Sampai detik ini, ya Tuhan. Sampai hari ini Tuhan Yesus aku masih mencari keadilan karena naluriku sampai sekarang berkata anakku dibunuh.”
Yestin kemudian menyebut dirinya telah mengalami stroke selama delapan tahun dan selama ini Winda yang merawatnya.
“Delapan tahun aku stroke, anakku yang mengurus. Apalagi dia sayang anak-anaknya, tidak mungkin mau meninggalkannya. Tolonglah Tuhan, jawab orang-orang yang terzolimi oleh mereka,” ucap Yestin dengan linangan air mata.
Dalam aksi tersebut, Yestin juga melantunkan kidung rohani berjudul ” Di Tengah Ombak ,”.
Keluarga meyakini Winda, yang merupakan mantan istri Brigadir Kepala Iman Harefa, tidak meninggal karena bunuh diri.
Mereka menduga terdapat kejanggalan dalam kematian Winda dan meyakini kematian tersebut berkaitan dengan dugaan penganiayaan, berbeda dengan dugaan bunuh diri yang sebelumnya disampaikan pihak kepolisian.
Dalam spanduk yang dibentangkan, keluarga meminta perkara kematian Winda yang ditangani Polrestabes Medan ditarik ke Polda Sumatera Utara.
Mereka juga mendesak Polda Sumut mengusut penyebab pasti kematian Winda secara transparan.
Di tengah aksi, keluarga mengaku kecewa setelah listrik di kawasan tersebut tiba-tiba padam. Mereka juga menduga jaringan telepon seluler ikut mengalami gangguan.
Setelah beberapa jam menggelar aksi, keluarga dan peserta aksi akhirnya meninggalkan lokasi dengan tertib.
Sebagaimana diketahui, Winda Lorenza Gowasa ditemukan meninggal dunia pada 2 Agustus 2026 di Kompleks Perumahan Bumi Asri, Kecamatan Medan Helvetia.
Winda diketahui merupakan mantan istri anggota kepolisian, Brigadir Kepala Iman Harefa.
Keluarga hingga kini masih mempertanyakan sejumlah hal terkait kematian Winda dan menduga terdapat kejanggalan dalam peristiwa tersebut. (ROM)






