MEDAN II
Keluarga almarhumah Winda Lorenza Gowasa (35) bersama sejumlah massa menggelar aksi unjuk rasa di depan Polda Sumatera Utara (Sumut), Kamis (27/8). Mereka meminta kematian mantan istri Brigadir IH tersebut diusut secara tuntas, transparan, dan objektif.
Dalam aksi yang berlangsung di Gerbang SPKT Polda Sumut, Jalan Sisingamangaraja, Kota Medan, massa menyatakan meragukan dugaan Winda meninggal dunia akibat bunuh diri menggunakan senjata api milik Brigadir IH.
Keraguan itu disampaikan melalui spanduk berukuran besar dan sejumlah foto korban yang dibawa dalam aksi.Dalam foto terlihat beberapa kejanggalan yang ada di tubuh almarhum.
Massa juga mendesak kepolisian melakukan ekshumasi dan autopsi apabila diperlukan untuk mengungkap penyebab kematian Winda.
“Jika ekshumasi dan autopsi resmi diperlukan untuk membuka fakta, jangan tunggu terlalu lama. Lakukan dengan cepat, lakukan secara profesional, lakukan secara independen, lakukan sesuai hukum dan prosedur, dan biarkan ilmu forensik berbicara. Bukan opini yang kami minta, bukan dugaan yang kami cari, bukan cerita yang berubah-ubah,” teriak massa.
Menurut keluarga, kematian Winda dinilai janggal dan tidak wajar. Mereka meminta seluruh fakta di balik kematian korban dibuka secara terang benderang.
“Ungkapkan dengan terang. Jangan ada yang ditutup-tutupi. Jangan ada fakta yang disembunyikan. Jangan ada keluarga yang dibiarkan menunggu tanpa kepastian,” teriak massa.
Perwakilan keluarga, Mariani Buulolo, mengatakan pihak keluarga berharap kepolisian memberikan ruang seluas-luasnya untuk mengungkap perkara tersebut secara objektif dan transparan.
“Kami meminta dan mengharapkan kehadiran negara, yakni bantuan Bapak Kapolda Sumatera Utara, Bapak Kapolri dan Bapak Presiden RI untuk turun tangan mengungkap misteri kematian Winda Lorenza Gowasa yang menurut keluarga bukan bunuh diri,” ujar Mariani.
Ia mengatakan keberatan keluarga tidak hanya berkaitan dengan hasil autopsi, tetapi juga proses pemeriksaan serta penyampaian informasi mengenai kematian Winda.
Keluarga mempertanyakan sejumlah kondisi yang mereka anggap sebagai kejanggalan pada tubuh almarhumah. Mereka juga menyayangkan informasi mengenai hasil pemeriksaan disebut telah disampaikan kepada publik sebelum keluarga memperoleh penjelasan yang mereka anggap memadai.
Sementara itu, ibu Winda, Yestin Laia, menyampaikan harapannya agar aparat penegak hukum memberikan perlindungan dan rasa keadilan kepada keluarganya.
“Kami sebagai masyarakat kecil yang tidak punya uang, tidak punya jabatan dan tidak punya bekingan, sangat berkeyakinan bahwa para pejabat di Republik ini masih ada yang memiliki hati nurani yang akan memberi perlindungan dan rasa keadilan terhadap masyarakat kecil,” ungkap Yestin dengan haru.
Yestin menyampaikan pernyataan tersebut sambil menangis dan berada di atas kursi roda dengan memeluk foto putrinya. Ia disebut telah mengalami stroke selama sekitar delapan tahun.
Yestin mengaku tetap meyakini terdapat kejanggalan dalam kematian putrinya.Dan juga tidak percaya Winda meninggal karena bunuh diri.
“Kami merasa batin dan naluri saya mengatakan anak saya dibunuh. Batin saya berkata begitu, Pak Kapolda,” katanya.
Aksi sempat memanas ketika massa terus menyampaikan orasi dan meminta perwakilan Polda Sumut menemui mereka.Dimana, massa memblokir jalan saat itu.
Tidak lama kemudian, Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum (Wadir Krimum) Polda Sumut, AKBP Ridwan JM Hutagaol, datang ke lokasi. Ridwan kemudian berdialog dengan pihak keluarga korban dan massa pengunjuk rasa. (ROM)






