MEDAN II
Anggota DPRD Kota Medan, Binsar Simarmata, menegaskan penguatan ideologi Pancasila dan wawasan kebangsaan menjadi bagian penting dalam mencegah ancaman Intoleransi, Radikalisme, Ekstremisme dan Terorisme (IRET) di kalangan generasi muda.
Menurut Binsar, Pancasila tidak cukup hanya dihafalkan oleh pelajar, tetapi harus dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat.
Hal itu disampaikan, Binsar Simarmata saat Sosialisasi Penyebarluasan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan di halaman St. Petrus, Jalan Luku I, Kelurahan Kwala Bekala, Kecamatan Medan Johor, Sabtu (26/9).
Kegiatan tersebut menghadirkan Dosen Universitas Katolik Santo Thomas (Unika) Medan, Dr. Berlian Simarmata, SH., M.Hum, tokoh pemuda Jeprianus Gea dari PMKRI Kota Medan, Tim Sahabat Binsar Simarmata serta ratusan pelajar.
“Jadi kita harus saling menghargai dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan sekolah, masyarakat dan khususnya keluarga. Sebagai pelajar harus memahami lima sila Pancasila,” kata Binsar.
Politisi Perindo itu menjelaskan, lima sila Pancasila yang terdiri dari Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan serta Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia harus menjadi pedoman dalam kehidupan.
Kata anggota Komisi 2 DPRD Medan yang membidangi pendidikan, sila Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi landasan penting dalam membangun sikap saling menghormati antarumat beragama. Karena itu, sikap intoleransi terhadap perbedaan harus dihindari sejak dini.
“Pancasila tidak cukup hanya dihafal, namun harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” tegasnya.
Binsar yang merupakan legislator dari daerah pemilihan (Dapil) 5 meliputi Medan Johor, Medan Maimun, Medan Polonia, Medan Selayang, Medan Sunggal dan Medan Tuntungan itu menilai penguatan wawasan kebangsaan semakin penting di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi.
Menurutnya, perkembangan teknologi dapat memengaruhi pola pikir dan gaya hidup generasi muda. Karena itu, pelajar perlu memiliki fondasi ideologi Pancasila dan wawasan kebangsaan yang kuat agar tidak mudah terpengaruh oleh paham yang dapat mengancam persatuan.
“Apalagi perkembangan teknologi saat ini dapat dengan mudah memengaruhi gaya hidup dan pola pikir generasi muda jika pondasi pengetahuan tentang ideologi Pancasila dan wawasan kebangsaan tidak kuat,” ujarnya.
Sementara itu, Dosen Unika Medan, Dr. Berlian Simarmata, SH., M.Hum sebagai pemateru menekankan pentingnya menanamkan pemahaman empat pilar kebangsaan sejak dini melalui lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat.
Empat pilar tersebut meliputi Pancasila, UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika.
Menurut Berlian, empat pilar kebangsaan tidak cukup hanya menjadi materi pembelajaran, tetapi harus diwujudkan melalui perilaku sehari-hari.
“Segala sesuatu yang menjadi pedoman hidup kita, baik dalam keluarga, sekolah maupun bermasyarakat, dasarnya adalah Pancasila,” ujarnya.
Ia menilai keluarga merupakan lingkungan pertama dalam membentuk karakter anak. Sikap saling menghormati, menghargai perbedaan pendapat dan membiasakan musyawarah merupakan contoh sederhana penerapan nilai Pancasila.
Sementara di sekolah, pelajar perlu dibiasakan menghormati teman yang berbeda suku, agama maupun latar belakang, menaati aturan, bertanggung jawab serta menyelesaikan persoalan melalui musyawarah.
“Kalau kita bersatu, hidup ini akan lebih baik. Di sekolah maupun di rumah, jangan saling sikut karena perbedaan,” katanya.
Berlian juga mengingatkan pelajar bahwa keberagaman merupakan bagian dari identitas bangsa Indonesia. Perbedaan suku, agama dan latar belakang tidak boleh menjadi alasan untuk saling bermusuhan.
“Walaupun kita berbeda-beda satu sama lain, kita tetap satu. Ada Batak Toba, Batak Karo, Jawa, Simalungun dan lainnya, tetapi kita adalah satu bangsa,” jelasnya.
# Pendidikan Jadi Benteng Pencegahan IRET
Dalam konteks pencegahan IRET, Berlian mengatakan sikap intoleransi dapat tumbuh ketika seseorang tidak mampu menerima perbedaan. Karena itu, pelajar perlu dibekali pemahaman bahwa perbedaan merupakan bagian dari kehidupan bermasyarakat.
“Terimalah bahwa ada orang yang berbeda. Bukan berarti kita harus setuju dengan semua yang dilakukan atau disampaikan, tetapi yang tidak baik harus kita hindari,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya memberikan pemahaman yang tepat mengenai radikalisme dan ekstremisme kepada generasi muda agar mereka mampu mengenali paham maupun tindakan yang dapat mengancam kehidupan bersama.
Menurutnya, pendidikan kebangsaan tidak boleh berhenti di ruang kelas. Nilai yang diajarkan di sekolah harus diperkuat oleh keluarga dan diterapkan dalam kehidupan masyarakat.
“Kalau anak belajar toleransi di sekolah, nilai itu harus dilanjutkan di rumah dan dalam kehidupan bermasyarakat. Jadi pendidikan kebangsaan menjadi tanggung jawab bersama,” tegasnya.
Selain toleransi, Berlian menilai kedisiplinan, tanggung jawab dan kepatuhan terhadap aturan juga menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter pelajar.
Dengan demikian, Pancasila dan empat pilar kebangsaan tidak hanya menjadi materi yang dihafalkan, tetapi menjadi nilai yang hidup dalam perilaku generasi muda.
Berlian berharap pemahaman tersebut dapat membentuk pelajar sebagai generasi penerus bangsa yang mampu menghargai perbedaan, menjaga persatuan, menaati aturan dan memiliki tanggung jawab dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Kalau nilai-nilai itu kita praktikkan dalam kehidupan, kita telah mendalami Pancasila. Dengan begitu kehidupan berbangsa dan bermasyarakat akan lebih aman dan sejahtera,” pungkasnya. (ROM)






