MEDAN II
Ketua Komisi 4 DPRD Kota Medan Paul Mei Anton Simanjuntak, SH mengajak masyarakat untuk benar-benar mengamalkan Ideologi Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, Pancasila bukan sekadar hafalan, tetapi harus benar-benar diterapkan dan dijalankan di lingkungan keluarga dan kerabat terdekat.
“Pastikan Ideologi Pancasila dihayati dalam hati sanubari dan direnungkan dalam setiap perbuatan. Jangan hanya di mulut saja,” pesan Paul.
Hal itu disampaikan Paul Mei Anton Simanjuntak saat melaksanakan kegiatan Penyebarluasan Pembinaan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan (Wasbang) TA 2026 di Jalan Amal, Kelurahan Pulo Brayan Darat II, Kecamatan Medan Timur, Sabtu (24/10).
Di hadapan warga, politisi PDI Perjuangan yang dikenal vokal itu menjelaskan bagaimana cara menghayati Pancasila dengan bahasa yang sederhana agar mudah dipahami masyarakat:
Dikatakan, adapun cara menghayati Pancasila di kehidupan sehari-hari dimulai dari rumah atau keluarga. Seperti dalam Sila 1 dan 2 mengajarkan anak berdoa sesuai agamanya, ajarkan hormat kepada orang tua dan tetangga. Dan terutama menghargai perbedaan agama dan keyakinan orang lain.
“Kalau di rumah saja kita tidak rukun, bagaimana mau rukun dengan masyarakat bahkan negara. Pancasila harus dimulai dari meja makan kita,” katanya.
Sedangkan Sila ketiga Persatuan Indonesia, dapat diwujudkan melalui kerukunan antarwarga tanpa membedakan suku maupun pilihan politik.
Paul mencontohkan keberagaman masyarakat di Pulo Brayan Darat yang terdiri dari berbagai suku, seperti Batak, Jawa, Tionghoa, dan Melayu.
“Jangan karena beda pilihan, beda suku langsung musuhan. Kalau ada tetangga kesusahan, bantu. Kalau ada gotong royong, ikut. Itulah Pancasila yang nyata,” kata Paul asal politisi PDI Perjuangan itu.
Sedangkan, Sila Keempat dan Kelima mengajarkan pentingnya musyawarah dalam menyelesaikan persoalan serta keadilan sosial bagi seluruh masyarakat. Penerapannya, kalau ada masalah di lingkungan, selesaikan dengan musyawarah, jangan main hakim sendiri. Seperti pemerataan bantuan pemerintah seperti PKH, bantuan pendidikan, dan kesehatan benar-benar sampai ke yang berhak. Itu wujud Keadilan Sosial.
“Jangan sampai Pancasila hanya tinggal di buku pelajaran. Anak-anak kita sekarang lebih hafal TikTok daripada Pancasila. Tugas kita orang tua untuk mengingatkan kembali,” ujar Paul
Paul juga mengingatkan bahwa di era digital, tantangan terhadap Pancasila semakin besar. Penyebaran hoaks, ujaran kebencian, dan paham radikalisme yang masuk lewat ponsel perlu diantisipasi dengan memperkuat pemahaman Pancasila.
“Kalau hati kita sudah terisi Pancasila, mau dihasut seperti apapun tidak akan goyah. Kita tetap cinta NKRI,” pungkasnya.
Kegiatan sosialisasi tersebut berlangsung dengan sesi tanya jawab bersama peserta. Acara kemudian ditutup dengan foto bersama dan pembagian suvenir kepada warga yang hadir. (ROM)






