MEDAN II
Anggota DPRD Medan Fraksi PDIP DPRD DR Dra Lily , MBA, MH mengatakan, sejumlah tokoh yang dinilai berjasa dalam pembangunan Kota Medan harus dikenang, terlebih tokoh yang ikut membangun ketika Medan baru berdiri sekitar 400an tahun silam. Para tokoh pejuang pembangunan Kota Medan harus diperkenalkan kepada masyarakat Pemko, khususnya saat HUT ke 436 Kota Medan.
“Tujuannya agar generasi muda mengenal sejarah serta menghargai jasa para pendiri dan tokoh pembangunan Kota Medan sejak awal berdirinya. Karena Medan dibangun atas kontribusi berbagai tokoh dari beragam latar belakang,” kata Dr Lily kepada wartawan, Selasa (30/6/2026).
Dr Lily menyebutkan bahwa Kota Medan didirikan oleh Guru Patimpus. Sebagai tanda penghormatan, Pemko sudah memberi nama Jalan Guru Patimpus dan monumennya ada di Kota Medan.
Tapi seiring berjalannya waktu setelah kota Medan berdiri, ada tokoh Abang beradik bernama Tjong Yong Hian dan Tjong A Fie yang dinilai berperan besar dalam pembangunan ekonomi di Kota Medan.
“Mereka berdua penyediaan lapangan kerja serta kegiatan sosial kemasyarakatan. Tjong Yong Hian dan Tjong A Fie adalah tokoh filantropis yang meletakkan fondasi multikultural dan infrastruktur Kota Medan. Keduanya mempelopori pembangunan berbagai fasilitas umum, rumah ibadah, dan yayasan sosial tanpa memandang suku atau agama di masa Kolonial Belanda,” katanya.
Ia mengatakan dari sisi bidang infrastruktur Tjong A Fie berjasa mendirikan stasiun kereta api, bank, jembatan dan jalan. Tjong Yong Hian juga aktif memajukan infrastruktur dasar pada awal pembentukan Kota Medan.
“Selain infrastruktur, keduanya juga membangun rumah ibadah, termasuk Masjid Raya Al-Mashun, Masjid Gang Bengkok, vihara dan sejumlah gereja serta layanan kesehatan,” ungkapnya.
“Tjong Yong Hian diabadikan melalui nama jalan (eks Jalan Bogor) bersamaan dengan nama Jalan DR GM Panggabean (eks Jalan Stadion Teladan) tahun 2012. Kemudian area makamnya di Jalan Kejaksaan Kebun Bunga dipugar. Sedangkan Tjong A Fie meninggalkan warisan bangunan ikonik bergaya arsitektur perpaduan Tionghoa, Eropah dan Melayu di Jalan Ahmad Yani Kesawan yang kini jadi cagar budaya,” sambungnya.
Menurut Lily, pemberian nama jalan bukan sekadar penamaan wilayah, tetapi juga menjadi sarana edukasi sejarah bagi masyarakat. Dengan demikian, generasi muda dapat mengetahui dan mengingat jasa para tokoh yang telah berkontribusi terhadap perkembangan Kota Medan.
“Penghargaan terhadap para tokoh tersebut penting sebagai bentuk penghormatan atas pengabdian mereka dalam membangun Kota Medan, baik dari sisi ekonomi, sosial, maupun kebudayaan,” pungkasnya. (ROM)






