MEDAN II
Bursa pencalonan Ketua Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Pengurus Daerah Sumatera Utara (Sumut) periode 2026–2030 mulai menghangat. Sekretaris IJTI Sumut periode 2022–2026, Sri Wanasari, S.Sos., M.I.Kom., dipastikan maju sebagai calon ketua dalam Musyawarah Daerah (Musda) VI IJTI Sumut yang dijadwalkan berlangsung, Selasa (3/11/2026).
Sri Wanasari yang saat ini menjabat Kepala Biro tvOne wilayah Sumatera mengaku siap mengikuti kontestasi kepemimpinan organisasi jurnalis televisi tersebut. Keputusannya maju tidak terlepas dari dorongan dan aspirasi rekan-rekan jurnalis, khususnya keluarga besar tvOne.
Wanasari mengungkapkan, dirinya pernah terkendala persoalan administrasi ketika hendak mencalonkan diri pada periode 2022 lalu. Namun, untuk Musda VI kali ini, seluruh persyaratan pencalonan telah dipenuhi.
“Alhamdulillah, syarat-syaratnya sudah dipenuhi. Tapi yang utama adalah dorongan dan aspirasi teman-teman, terutama di tvOne. Melihat semangat mereka, saya pikir tidak ada salahnya berjuang secara adil untuk mendapatkan kesempatan mengabdi,” ujar Wanasari dalam temu pers kepada wartawan, Senin (2/10/2026).
Jika dipercaya memimpin IJTI Sumut, Wanasari mengaku tidak ingin mengumbar janji muluk-muluk. Ia justru menyiapkan tiga prioritas utama untuk membenahi dan memperkuat organisasi.
Prioritas pertama adalah pembenahan manajemen dan administrasi internal, baik di tingkat pengurus daerah provinsi maupun koordinator daerah (korda) kabupaten dan kota. Menurutnya, tata kelola organisasi yang tertib dan kuat merupakan fondasi penting sebelum menjalankan berbagai program strategis.
Prioritas kedua adalah memperkuat solidaritas dan memperjuangkan kondisi kerja jurnalis. Ia menyadari industri media saat ini menghadapi tantangan besar sehingga dibutuhkan kebersamaan dan perjuangan kolektif seluruh anggota.
“Saya tidak ingin menggaransi kesejahteraan yang berlebihan. Jurnalis adalah sosok yang militan dan tangguh untuk bertahan. Di tengah kondisi industri media yang serba menantang, kuncinya adalah berjuang bareng-bareng,” jelasnya.
Sementara prioritas ketiga adalah meningkatkan kesadaran anggota terhadap pentingnya menjaga kesehatan fisik dan mental. Tingginya mobilitas serta dinamika pekerjaan jurnalis televisi di lapangan, menurutnya, menuntut setiap insan pers untuk lebih memperhatikan kesehatan. “Menua itu pasti,” katanya.
# Diiringi Doa Mama
Di balik kesiapannya maju memimpin organisasi, Wanasari memiliki perjalanan panjang dan penuh cerita dalam dunia jurnalistik. Berawal dari pendidikan di bidang pariwisata, ketertarikannya terhadap dunia penyiaran justru tumbuh dari sebuah percakapan sederhana bersama sang ibu ketika masih duduk di bangku SMA.
Ia mengenang, suatu sore di kampung, ibunya sedang menyaksikan berita televisi dan menunjuk seorang pembawa berita.
“Satu sore di kampung, mama menonton berita dan bilang, ‘Kak, kamu bisa tidak jadi seperti dia?’ sambil menunjuk news anchor di TV. Waktu itu saya jawab enteng, ‘Bisalah, kenapa tidak.’ Ternyata ucapan itu menjadi doa dan menentukan perjalanan hidup saya,” kenangnya.
Ucapan sederhana tersebut kemudian menjadi motivasi yang mengantarkannya mendalami ilmu komunikasi hingga meraih gelar magister.
Kesempatan memasuki dunia penyiaran semakin terbuka ketika dosen S-1-nya, Linova Rifiaty, yang saat itu menjabat Kepala Biro tvOne Medan, bersama seniornya, Desi Pohan, memberikan kesempatan kepadanya untuk menunjukkan kemampuan jurnalistik.
Dari kesempatan tersebut, Wanasari memulai karier sebagai stringer dan dipercaya menjadi kontributor tvOne di wilayah Belawan selama enam tahun.
Ketekunan serta konsistensinya di lapangan kemudian mengantarkannya menjadi reporter resmi hingga dipercaya menduduki posisi Kepala Biro tvOne wilayah Sumatera.
Pengalaman panjang di dunia jurnalistik dan akademis menjadi modal baginya untuk terus berbagi pengetahuan kepada generasi muda. Ia menilai jurnalisme bukan sekadar profesi rutin, melainkan ruang untuk terus belajar, bergerak, dan membagikan pengalaman praktis kepada dunia akademis.
Terkait arah kepemimpinan IJTI Sumut, Wanasari juga memberikan perhatian serius terhadap persoalan independensi pers dan hubungan dengan para pemangku kepentingan.
Baginya, jurnalis memiliki kedudukan yang setara dengan pemerintah maupun aparat penegak hukum. Karena itu, organisasi profesi tidak boleh kehilangan sikap kritis hanya karena membangun kemitraan dengan berbagai pihak.
“IJTI Sumut tidak boleh menjadi corong pemerintah, melainkan harus berdiri independen di tengah sebagai jembatan penyeimbang yang menyuarakan aspirasi masyarakat,” terangnya.
Ia mengakui menjaga independensi di tengah kemitraan strategis bukan perkara mudah. Namun, berbagai tantangan tersebut diyakininya dapat dihadapi melalui komunikasi yang tegas, bijaksana, dan tetap berpegang pada integritas.
“Posisi jurnalis itu setara, tidak boleh berada di bawah pemerintah atau aparat tertentu. Kemitraan yang kita bangun haruslah kemitraan yang strategis. IJTI tidak boleh menjadi corong pemerintah, melainkan berdiri di tengah sebagai jembatan yang menyuarakan aspirasi masyarakat dan pemerintah,” tegasnya.
Melalui tiga prioritas yang ditawarkan, Wanasari berharap IJTI Sumut ke depan semakin solid, memiliki tata kelola organisasi yang profesional, serta mampu menjaga marwah dan independensi pers di tengah tantangan industri media yang terus berkembang. (ROM)






